Siaran Langsung Dialog Interaktif RRI Denpasar “Hai Bali Kenken” dengan topik “Program Keluarga Berencana dengan Kearifan Lokal Budaya Bali”

Siaran Langsung Dialog Interaktif “Hai Bali Kenken” dengan topik “Program Keluarga Berencana dengan Kearifan Lokal Budaya Bali” yang diselenggarakan pada hari Kamis, 18 Juli 2019 bertempat di Kantor RRI Denpasar, dapat kami laporkan hal sebagai berikut :

Siaran Langsung Dialog Interaktif “Hai Bali Kenken” dipandu oleh Bang Paul dan Putu Widya, dengan narasumber Kepala Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil, dan Keluarga Berencana Provinsi Bali dan Kepala BKKBN Perwakilan Bali, Bapak Catur Sentana.

Kepala Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil dan Keluarga Berencana Provinsi Bali, I .G.A.K Kartika Jaya Seputra, SH. MH menyampaikan bahwa Program KB Krama Bali merupakan salah satu Program Strategis Pemerintah Provinsi Bali sebagai penjabaran Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru. Masyarakat diingatkan untuk tetap “eling” dengan kearifan lokal Bali (Nyama Pat) sebagaimana tertuang dalam Lontar Tutur Kanda Pat.

Mengenai banyak pendapat yang kontra terhadap program KB Krama Bali, masyarakat diajak untuk melihat Bali secara utuh dan berpikir jangka panjang. Ketika Krama Bali sudah tidak mampu menjaga kebudayaannya, maka pariwisata Bali akan terancam, yang pada akhirnya berpengaruh negatif terhadap perekonomian Bali.

Kepala BKKBN Perwakilan Bali menyampaikan bahwa konsep Keluarga Berencana tidak berbicara mengenai jumlah anak. KB lebih menekankan konsep kesehatan reproduksi dalam merencanakan keluarga berkualitas. Selain itu perlu dipertimbangkan daya tampung serta daya dukung lingkungan.

Dalam dialog interaktif tersebut, terdapat pendapat, masukan, serta pertanyaan dari masyarakat Bali, yang dirangkum sebagai berikut:

  1. Bapak Manohara, dari Bangli, menyampaikan bahwa dari sudut pandang ekonomi, pelaksanaan program KB Krama Bali pesimis akan berhasil.
  2. Bapak Didik yang merupakan keluarga besar dari 7 bersaudara menyampaikan banyak anak tidak menjadi alasan untuk tidak dapat mewujudkan keluarga berkualitas dengan ekonomi keluarga yang stabil.
  3. Bapak Alit menyikapi daerah diluar Kabupaten Badung dan Kota Denpasar belum mampu mendukung program KB 4 anak. Hal ini terkait dengan pertumbuhan perekonomian yang tidak merata di Bali. Selain itu Bapak Alit mempertanyakan dampak jika program KB Krama Bali berhasil dilaksanakan dari aspek ketersediaan lahan.
  4. Bapak Ngurah, dari Kerobokan, menyampaikan optimismenya bahwa konsep KB Krama Bali harusnya dijadikan tantangan untuk lebih berpikir kreatif bagaimana mewujudkan Krama Bali yang semakin bertambah jumlahnya serta semakin berkualitas dalam menghadapi tantangan global. Bali tidak ingin mengikuti tren yang terjadi di negara maju dimana jumlah penduduk aslinya semakin berkurang dan pemerintah memberikan berbagai subsidi agar masyarakatnya mau mempunyai anak.
  5. Pan Sadu, dari Karangasem, berpendapat dengan konsep KB Krama Bali diharapkan mampu mewujudkan keluarga sejahtera sebagai modal mewujudkan negara yang kuat.
  6. Terdapat pesan dari Whatsapp (WA) yang menyatakan bahwa menambah serta mengurus anak merupakan urusan yang merepotkan.

Kepala Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil, dan Keluarga Berencana Provinsi Bali menanggapi dengan memberikan optimisme kepada masyarakat bahwa Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota akan berada di tengah-tengah masyarakat melalui berbagai bantuan/insentif yang sedang kami rancang dalam membantu Krama Bali mengurangi beban kehidupan serta menggerakkan perekonomian masyarakat. Bapak Gubernur sedang menata fundamental Bali dari berbagai aspek menuju Bali Era Baru. Kami mencoba membangun persepsi bahwa Krama Bali mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menjaga dan melestarikan kebudayaannya.

Pemerintah Provinsi Bali melalui program KB Krama Bali tidak memaksa untuk memiliki anak 4, semua itu dikembalikan kepada hak reproduksi serta kemampuan keluarga untuk mewujudkan keluarga yang unggul dan berkualitas.

Kepala BKKBN Perwakilan Bali menyampaikan konsep KB Krama Bali serta KB Nasional sama-sama bertujuan bagaimana mempersiapkan dan mewujudkan keluarga berkualitas yang siap menghadapi persaingan global dengan tetap mempertimbangkan kearifan lokal serta kebudayaan setempat. Hal fundamental yang menjadi pertimbangan mewujudkan keluarga yang unggul dan berkualitas adalah pendekatan kesehatan reproduksi, kemampuan finansial, daya dukung dan daya tampung keluarga itu sendiri. Ditekankan juga kepada masyarakat bahwa dalam pembangunan keluarga untuk memperhatikan pola “4 terlalu” yaitu terlalu dekat, terlalu cepat, terlalu banyak dan terlalu tua untuk melahirkan.